Ringkasan dari berbagai sumber, baik majalah, tabloid, koran, dan buku. Baik Isinya tentang kajian tematik, sampai resep
Jumat, 08 November 2019
Minggu, 08 September 2019
Rabu, 04 September 2019
Rabu, 10 April 2019
Senin, 25 Februari 2019
Senin, 18 Februari 2019
Minggu, 25 November 2018
Minggu, 23 September 2018
Senin, 26 Maret 2018
Senin, 12 Maret 2018
Sabtu, 16 September 2017
Adab Menguap dan Bersin Dalam Islam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucap 'Alhamdulillah'). Dan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mendengar untuk mendoakannya. Adapun menguap maka ia berasal dari syaitan, hendaklah setiap Muslim berusaha untuk menahannya sebisa mungkin, dan apabila mengeluarkan suara 'ha' maka saat itu syaitan menertawakannya."
(HR. Bukhari, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ahmad)
Ada beberapa adab yang berkaitan dengan menguap dan bersin yang diatur di dalam Islam.
Menguap
- Menahan menguap sebisa mungkin saat shalat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Menguap dalam shalat adalah dari syaitan. Apabila salah seorang diantara kalian menguap hendaklah ia menahannya sedapat mungkin."
(HR. at-Tirmidzi)
Sebisa mungkin menahan menguap, bila tidak bisa menahan mulut untuk tetap tertutup maka tutuplah mulut dengan tangan, bukan malah melebarkan mulut selebar-lebarnya, apalagi disertai suara.
Dari Abu Said radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Jika salah seorang diantara kalian menguap maka hendaklah ia menutup mulut dengan tangannya, karena syaitan masuk (ke dalam mulut yang terbuka)."
(HR. Muslim)
- Tidak perlu berta'awudz
Sesungguhnya tidak pernah disunnahkan oleh Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam untuk berta'awudz saat menguap. Tidak ada dalil yang menguatkannya.
Diriwayatkan oleh ibunda 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata, Rasulullah Shalallahu 'alayhi wassallam bersabda, "Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan termasuk dari ajaran agama kami maka amalannya tersebut akan tertolak."
(HR. Muslim)
Bersin
- Merendahkan suara saat bersin
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, "Adalah Nabi jika bersin maka beliau menutup wajahnya dengan tangan atau bajunya sambil merendahkan suaranya."
(HR. Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Baghawi, dan Al-Hakim)
- Ucapan (Do'a) saat bersin
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah menyukai bersin dan benci terhadap menguap maka apabila ia bersin hendaklah ia memuji Allah (dengan mengucap 'Alhamdulillah'). Dan merupakan kewajiban bagi setiap Muslim yang mendengar untuk mendoakannya. ...."
(HR. Bukhari, Abu Daud, at-Tirmidzi dan Ahmad)
-- Hamdalah secara lengkap (Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin)
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Jika seseorang di antara kalian bersin maka hendaklah ia membaca: 'Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin' (segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam). Dan bagi yang mendengarnya hendaklah menjawab dengan: 'Yarhamukallaah' (semoga Allah memberikan rahmat bagimu). Lalu yang bersin mendoakan orang yang telah mendoakannya: 'yaghfirullaahu lakum' (semoga Allah mengampuni kalian)."
(HR. Bukhari, An Nasa'i, dan Ibnus Sunni. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)
-- Alhamdulillah 'alaa kulli haal
Dari 'Ali radhiyallahu 'anhu, Nabi Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Jika seseorang diantara kalian bersin maka hendaklah ia membaca 'Alhamdulillah 'alaa kulli haal' (segala puji bagi Allah atas segala keadaan). Dan bagi yang mendengarnya hendaklah menjawab: 'Yarhamukallaah' (semoga Allah merahmatimu). Lalu yang bersin membalasnya: 'Yahdikumullaah wa yushlihu baalakum' (semoga Allah memberi petunjuk bagi kamu sekalian dan memperbaiki keadaanmu)."
(HR. Ahmad, Ad-Darimi, At-Tirmidzi, Al-Hakim)
--Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan 'alayhi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa
Diriwayatkan oleh Mu'adz Ibnu Rifa'ah Ibnu Rafii', dari bapaknya, ia berkata: "Aku pernah shalat dibelakang Nabi, dan ketika itu Rifa'ah (aku) bersin - Qutaibah (salah satu perawi hadits) tidak menyebutkan 'Rifa'ah' - maka aku mengucapkan: 'Alhamdulillahi hamdan katsiiran thayyiban mubaarakan fiihi mubaarakan 'alayhi kamaa yuhibbu rabbunaa wa yardhaa' (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak lagi penuh berkah dan diberkahi, sebagaimana yang dicintai dan diridhai oleh Rabb kami). Ketika Rasulullah usai menunaikan shalat, beliau segera berpaling dan bertanya: 'Siapa yang mengucapkan tadi.' Maka seseorang (Rifa'ah) menjawab: 'Aku wahai Rasulullah.' Maka beliau bersabda: ' Aku telah melihat tiga puluh tiga lebih malaikat saling bergegas, siapakah di antara mereka yang paling dahulu menulis amal kebaikan itu.'"
(HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Al-Baihaqi, Al-Hakim, At-Thabrani)
- Bertasymit (mendo'akan yang bersin)
Dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda, "Empat hal yang harus dilakukan seorang Muslim terhadap Muslim lainnya, yaitu menjenguknya ketika sakit, menghadirinya tatkala meninggal dunia, memenuhi undangannya, dan mendo'akannya ketika bersin."
(HR. Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Hibban, di shahihkan oleh Al-Albani)
Meski tasymit wajib dilakukan kaum Muslimin, namun ada pula orang-orang yang tidak perlu mendapat tasymit. Yakni:
- Orang yang bersin tidak mengucap hamdalah
- Orang bersin lebih dari tiga kali
- Orang bersin saat khatib tengah berkhutbah jum'at
- Orang bersin saat shalat
- Orang bersin di dalam toilet
- Tidak bertasymit pada orang kafir
Mengapa Muslim tidak boleh bertasymit pada orang kafir? Sebab, terlarang bagi kita kaum Muslim untuk memohonkan rahmat bagi orang kafir. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta'ala:
"Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat(nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahannam."
surah At-Taubah [9] ayat 113.
Penulis: Elly Muzdalifah/ Aulia/ No. 10/ Tahun X/ Jumadil Awal 1434H/ April 2013
Gambar diambil dari berbagai sumber melalui google.com
Diringkas dengan tidak mengubah isi / kandungan tulisan
Semoga bermanfaat bagi kita semua.
Best Regards,
Orriezza
Minggu, 10 September 2017
Obat Segala Masalah
Dari Abu Qatadah dan Abu Dahma' keduanya berkata, "Kami mendatangi seorang lelaki Badui lalu bertanya,'Apakah engkau mendengar sesuatu dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi was Salam?' Lelaki Itu berkata, "Ya, aku mendengar beliau bersabda, "Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik."
(Riwayat Ahmad. Syaikh Syu'aib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad Hadits ini shahih)
Hadits diatas , Rasullah Shalallahu 'Alaihi was Salam memotivasi kita untuk bertaubat. Tidak sepantasnya seseorang menunda taubat karena pertimbangan duniawi, sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan jaminan. Jika seorang bertaubat lalu berakibat hilangnya nikmat dunia, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Pengganti tak selalu berwujud duniawi, terkadang juga ukhrawi, dan pengganti paling istimewa di dunia adalah meraih cinta dan keridhaan-Nya.
Ibnul Qayyim berkata, "Perkataan siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah adalah haq. Penggantinya bisa beragam, tapi pengganti yang paling baik adalah dekat kepada Allah dan mencintai-Nya, tentram dan semangatnya hati karena-Nya, serta gembira dan ridha terhadap Rabbnya." (al-Fawaid)
Adapun bersifat ukhrawi tentu jauh lebih dahsyat. Nikmat yang dijanjikan tidak dapat dibandingkan dengan dunia. Assindi berkata, "Satu dzarrah dari akhirat itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (Hasyiah Ibnu Majah, 1/356).
Para Salafushalih seringkali khawatir, jika penggantinya hanya di dunia, sedangkan puncak harapannya adalah akhirat. Imam Bukhari meriwayatkan, suatu hari dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin Auf, lalu ia berkata, "Mus'ab dibunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak didapakan kain untuk mengkafaninya kecuali burdah. Hamzah terbunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak ada kain untik mengkafaninya. Sungguh aku khawatir aku telah dipercepat kebaikan berupa duniawi." kemudian beliau menangis.
Seorang zuhud ditanya siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya, engkau telah meninggalkan dunia lalu dengan apa Allah menggantinya?, ia menjawab, "Dengan keridhaan-Nya terhadap apa yang aku berada di atasnya." (Sifatush-Shafwah: 2/397). Inilah refleksi keimanan yang kuat, iman seperti inilah yang memiliki daya tahan kuat dalam menghadapi fitnah.
Penulis : Ahmad Rifa'i/ Suara Hidayatullah/ Edisi II/ XXVIII/ Maret 2017/ Jumadil Tsani 1438
Gambar : diambil dari berbagai sumber melalui google.com
Diringkas dengan tidak mengubah isi / kandungan tulisan
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Best Regards,
Orriezza
Adapun bersifat ukhrawi tentu jauh lebih dahsyat. Nikmat yang dijanjikan tidak dapat dibandingkan dengan dunia. Assindi berkata, "Satu dzarrah dari akhirat itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (Hasyiah Ibnu Majah, 1/356).
Para Salafushalih seringkali khawatir, jika penggantinya hanya di dunia, sedangkan puncak harapannya adalah akhirat. Imam Bukhari meriwayatkan, suatu hari dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin Auf, lalu ia berkata, "Mus'ab dibunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak didapakan kain untuk mengkafaninya kecuali burdah. Hamzah terbunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak ada kain untik mengkafaninya. Sungguh aku khawatir aku telah dipercepat kebaikan berupa duniawi." kemudian beliau menangis.
Seorang zuhud ditanya siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya, engkau telah meninggalkan dunia lalu dengan apa Allah menggantinya?, ia menjawab, "Dengan keridhaan-Nya terhadap apa yang aku berada di atasnya." (Sifatush-Shafwah: 2/397). Inilah refleksi keimanan yang kuat, iman seperti inilah yang memiliki daya tahan kuat dalam menghadapi fitnah.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi was Salam bersabda, "Malaikat Jibril membisikiku bahwa setiap jiwa tidak akan meninggalkan dunia hingga ia telah menyempurnakan ajalnya dan mengambil rezekinya. Maka perbaikilah dalam mencari nafkah, dan janganlah sampai terlambatnya rezeki membuatmu mencarinya dengan jalan maksiat, karena sesungguhnya tidaklah diperoleh apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan mentaatinya."
(Riwayat ath-Thabrani dan di shahih-kan oleh Albani)
Masalah adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Islam mengajarkan adanya hukum sebab akibat antara masalah dengan dosa. Dalam beberapa kitab Hadits, ada bab tentang al-uqubat. Di dalamnya disebutkan beberapa hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan akibat dosa yang diperbuat. Langkah yang patut diambil dalam menyelesaikan masalah adalah dengan usaha dan ikhtiar yang telah diresepkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Salah satunya adalah dengan taubat. Dengan taubat maka nilai-nilai keimanan akan menjadi tumbuh dan berkembang, jika keimanan menjadi dominan maka pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mudah didapatkan. Jika Allah telah terlibat, maka masalah apapun pasti ada solusinya.
Penulis : Ahmad Rifa'i/ Suara Hidayatullah/ Edisi II/ XXVIII/ Maret 2017/ Jumadil Tsani 1438
Gambar : diambil dari berbagai sumber melalui google.com
Diringkas dengan tidak mengubah isi / kandungan tulisan
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Best Regards,
Orriezza
Langganan:
Postingan (Atom)




