Dari Abu Qatadah dan Abu Dahma' keduanya berkata, "Kami mendatangi seorang lelaki Badui lalu bertanya,'Apakah engkau mendengar sesuatu dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi was Salam?' Lelaki Itu berkata, "Ya, aku mendengar beliau bersabda, "Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik."
(Riwayat Ahmad. Syaikh Syu'aib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad Hadits ini shahih)
Hadits diatas , Rasullah Shalallahu 'Alaihi was Salam memotivasi kita untuk bertaubat. Tidak sepantasnya seseorang menunda taubat karena pertimbangan duniawi, sebab Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan jaminan. Jika seorang bertaubat lalu berakibat hilangnya nikmat dunia, Allah pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik. Pengganti tak selalu berwujud duniawi, terkadang juga ukhrawi, dan pengganti paling istimewa di dunia adalah meraih cinta dan keridhaan-Nya.
Ibnul Qayyim berkata, "Perkataan siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah adalah haq. Penggantinya bisa beragam, tapi pengganti yang paling baik adalah dekat kepada Allah dan mencintai-Nya, tentram dan semangatnya hati karena-Nya, serta gembira dan ridha terhadap Rabbnya." (al-Fawaid)
Adapun bersifat ukhrawi tentu jauh lebih dahsyat. Nikmat yang dijanjikan tidak dapat dibandingkan dengan dunia. Assindi berkata, "Satu dzarrah dari akhirat itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (Hasyiah Ibnu Majah, 1/356).
Para Salafushalih seringkali khawatir, jika penggantinya hanya di dunia, sedangkan puncak harapannya adalah akhirat. Imam Bukhari meriwayatkan, suatu hari dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin Auf, lalu ia berkata, "Mus'ab dibunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak didapakan kain untuk mengkafaninya kecuali burdah. Hamzah terbunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak ada kain untik mengkafaninya. Sungguh aku khawatir aku telah dipercepat kebaikan berupa duniawi." kemudian beliau menangis.
Seorang zuhud ditanya siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya, engkau telah meninggalkan dunia lalu dengan apa Allah menggantinya?, ia menjawab, "Dengan keridhaan-Nya terhadap apa yang aku berada di atasnya." (Sifatush-Shafwah: 2/397). Inilah refleksi keimanan yang kuat, iman seperti inilah yang memiliki daya tahan kuat dalam menghadapi fitnah.
Penulis : Ahmad Rifa'i/ Suara Hidayatullah/ Edisi II/ XXVIII/ Maret 2017/ Jumadil Tsani 1438
Gambar : diambil dari berbagai sumber melalui google.com
Diringkas dengan tidak mengubah isi / kandungan tulisan
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Best Regards,
Orriezza
Adapun bersifat ukhrawi tentu jauh lebih dahsyat. Nikmat yang dijanjikan tidak dapat dibandingkan dengan dunia. Assindi berkata, "Satu dzarrah dari akhirat itu lebih baik daripada dunia dan seisinya." (Hasyiah Ibnu Majah, 1/356).
Para Salafushalih seringkali khawatir, jika penggantinya hanya di dunia, sedangkan puncak harapannya adalah akhirat. Imam Bukhari meriwayatkan, suatu hari dihidangkan makanan kepada Abdurrahman bin Auf, lalu ia berkata, "Mus'ab dibunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak didapakan kain untuk mengkafaninya kecuali burdah. Hamzah terbunuh dan ia lebih baik dariku tapi tidak ada kain untik mengkafaninya. Sungguh aku khawatir aku telah dipercepat kebaikan berupa duniawi." kemudian beliau menangis.
Seorang zuhud ditanya siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, Allah akan menggantinya, engkau telah meninggalkan dunia lalu dengan apa Allah menggantinya?, ia menjawab, "Dengan keridhaan-Nya terhadap apa yang aku berada di atasnya." (Sifatush-Shafwah: 2/397). Inilah refleksi keimanan yang kuat, iman seperti inilah yang memiliki daya tahan kuat dalam menghadapi fitnah.
Rasulullah Shalallahu 'Alaihi was Salam bersabda, "Malaikat Jibril membisikiku bahwa setiap jiwa tidak akan meninggalkan dunia hingga ia telah menyempurnakan ajalnya dan mengambil rezekinya. Maka perbaikilah dalam mencari nafkah, dan janganlah sampai terlambatnya rezeki membuatmu mencarinya dengan jalan maksiat, karena sesungguhnya tidaklah diperoleh apa yang ada di sisi Allah kecuali dengan mentaatinya."
(Riwayat ath-Thabrani dan di shahih-kan oleh Albani)
Masalah adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup manusia. Islam mengajarkan adanya hukum sebab akibat antara masalah dengan dosa. Dalam beberapa kitab Hadits, ada bab tentang al-uqubat. Di dalamnya disebutkan beberapa hukuman dari Allah Subhanahu wa Ta'ala turunkan akibat dosa yang diperbuat. Langkah yang patut diambil dalam menyelesaikan masalah adalah dengan usaha dan ikhtiar yang telah diresepkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Salah satunya adalah dengan taubat. Dengan taubat maka nilai-nilai keimanan akan menjadi tumbuh dan berkembang, jika keimanan menjadi dominan maka pertolongan Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mudah didapatkan. Jika Allah telah terlibat, maka masalah apapun pasti ada solusinya.
Penulis : Ahmad Rifa'i/ Suara Hidayatullah/ Edisi II/ XXVIII/ Maret 2017/ Jumadil Tsani 1438
Gambar : diambil dari berbagai sumber melalui google.com
Diringkas dengan tidak mengubah isi / kandungan tulisan
Semoga bermanfaat untuk kita semua.
Best Regards,
Orriezza


Tidak ada komentar:
Posting Komentar