Sabtu, 09 September 2017

Tidak Berguna? Jangan Dikerjakan!

Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi was Salam bersabda, "Di antara tanda bagusnya ke islaman seseorang adalah dia meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya."
(Riwayat At-Tirmidzy, dishahihkan oleh Syaikh Muhammad Nasiruddin al-Albani)

Hadits diatas merupakan petunjuk bagi orang beriman dalam beraktivitas karena mengandung ajaran yang begitu penting untuk diamalkan dalam kehidupan. Sebagaimana perkataan Ibnu Rajab "Hadits ini merupakan salah satu di antara kaidah-kaidah adab (tata krama) yang agung (dalam islam)" (Jami' al Ulum wa al-Hikam).

jangan membuang waktu sia-sia
Waktu yang terbuang tidak bisa kembali

Menyibukkan diri dengan perkara yang baik dan meninggalkan semua perkara yang tak bermakna bukanlah perkara mudah. Jiwa harus disibukkan dengan kebaikan dan lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang saleh untuk menjaga iman. Imam Syafi'i menasehatkan, "Jika anda tidak menyibukkan diri dengan kebaikan, maka ia akan menyibukkan anda dengan kebathilan". 

Membuang-buang waktu untuk perkara sia-sia juga merupakan perkara yang dibenci oleh para salafusaleh. Bagi mereka, waktu merupakan karunia berharga yang tidak boleh hampa dari amal ketaatan. Umar bin Al-Khaththab berkata, "Sesungguhnya saya benci kepada orang yang berjalan sia-sia, yaitu tidak karena urusan dunia dan tidak pula akhirat" (Bayan Fadli Ilmis Salaf).

jaga lisan
salah omong


Salah satu perkara tak bermakna yang harus kita jauhi adalah mengucapkan perkataan sia-sia. Tiada ucapan yang terucap dari lidah, kecuali ada malaikat yang mencatatnya.

"Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir."
(Qaf [50]: 18)

Ketika lidah tak terkendali bisa mendatangkan keburukan bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam kehidupan ini, tak sedikit manusia menjadi terhina lantaran berbicara serampangan, dibenci manusia lain lantaran ucapannya yang tak terkendali, kehilangan kepercayaan atas orang lain lantaran ucapannya yang sering berdusta, dua orang bisa saling membunuh akibat ucapan yang mengandung hasutan.

muslim yang baik menjaga lisan
berkata baik atau diam


Dampak buruk dari lidah yang tak terjaga tak hanya di dunia saja, tapi juga di akhirat. Muadz bin Jabal pernah bertanya kepada Rasulullah Shalallahu 'Alaihi was Salam,

"Wahai Nabi Allah Shalallahu 'Alaihi was Salam, apakah kita akan dihukum dengan apa yang kita ucapkan?" Nabi menjawab, "Ibumu telah kehilangan kamu (hai Muadz), tidaklah manusia akan ditelungkupkan dalam api neraka di atas wajah-wajah mereka (atau diatas hidung-hidung mereka) melainkan karena buah hasil perkataan lidah-lidah mereka."
(Riwayat Tirmidzi no. 2616, Ibnu Majah no. 3973 dan Imam Ahmad (V/231, 236 dan 237)

Sebelum berucap, orang beriman harus menimbang terlebih dahulu. Jika membawa kebaikan maka tidak mengapa bila diucapkan, namun bila lebih banyak madharatnya, maka harus ditahan. Bila ditimbang antara mengucapkan dan tidak mengucapkan mengandung manfaat dan madharat yang sama, maka lebih baik ditahan atau diam. Imam Nawawi berkata, "Dan ketahuilah bahwa sepatutnya setiap mukallaf menjaga lidahnya dalam bertutur kata kecuali perkataan yang membawa maslahat. Dan jika antara mengucapkan dan tidak mengucapkan itu berimbang dalam kemaslahatannya, maka disunahkan untuk menahan diri (diam). Karena perkataan mubah terkadang dapat menyeret kepada yang haram atau makruh. Dan hal ini biasanya banyak terjadi, sementara sangat kecil untuk selamat darinya." (Mukhtashar Muslim).

menjauhi kesia-siaan
Jadilah Muslim produktif


Dalam hidup ini, kesuksesan atau kegagalan, kemuliaan atau kehinaan yang akan dialami seseorang sangat tergantung kepada bagaimana ia memanfaatkan waktu yang ada. Kita patut mengambil pelajaran dari kehidupan Luqman al-Hakim, yang karena kebijaksanaannya, namanya harum dan diabadikan dalam suatu surat dari al-Qur'an, dan yang menyebabkan beliau mencapai kemuliaan seperti itu adalah karena beliau meninggalkan perkara yang tak bermakna. Imam Malik menyebutkan bahwa sampai kepadanya keterangan bahwa seseorang berkata kepada Luqman, "Apa yang menjadikan engkau mencapai derajat seperti yang kami saksikan sekarang?" Jawabnya, "Berkata benar, menunaikan amanah dan meninggalkan apa saja yang tidak berguna bagi diriku." (Ibnu Daqiq al-'Ied, Sarah  Arbain Hadatsan An NAwawiyah, hal. 73).


Penulis : Masrokan, Suara Hidayatullah Edisi 9/ XXIV/ Januari 2012/ Shafar
Gambar : diambil dari berbagai sumber melalui google.com
Diringkas dengan tidak mengurangi isi / kandungan tulisan.


Semoga bermanfaat untuk kita semua.

Best Regards,


Orriezza

Tidak ada komentar:

Posting Komentar